Home / Artikel / Asal HMI Itu Dari Kampus Bukan Dari Luar

Asal HMI Itu Dari Kampus Bukan Dari Luar

Oleh : Reffhi Bahrizal

Perubahan zaman semakin berkembang. Beberapa  era yang pernah muncul di Indonesia melahirkan begitu banyak sudah organisasi-organisasi yang bergerak dalam perjuangan. Baik memperjuangkan Agama maupun memperjuangan Bangsa dan Negara.

HMI salah satunya adalah saksi kehidupan perkembangan Negara Indonesia dari masa melawan penjajahan hingga masa kini. Beberapa organisasi Eksternal kampus selain HMI antara lain Front Mahasiswa Nasional, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMA PERSIS), Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia, Lembaga Dakwah Kampus, Pelajar Islam Indonesia, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, Serikat Mahasiswa Indonesia, Ikatan Mahasiswa Teknik Industri, Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia, Ikatan Mahasiswa Manajemen Pendidikan/Administrasi Pendidikan Seluruh Indonesia (IMMAPSI), Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI). (Wilkipedia)

Namun sungguh menjadi permasalahan besar saat ini adalah beberapa organisasi Eksternal kampus menabur perang dingin terhadap organisasi lainnya, sehingga terjadilah saling salah menyalahkan. Serta saling jatuh menjatuhkan.

Saat ini HMI seringkali menjadi sasaran korban yang disalahkan. Saya berfikir ini dikarnakan efek kecemburuan lintas organisasi, yang mana saat ini HMI lebih berpengaruh dalam pergerakan mahasiswa secara perkaderan dan pentrainingan.

Konflik organisasi Eksternal kampus semakin memanas. Bahkan beberapa organisasi Eksternal mencoba membawa pergerakan politik praktis kedalam internal kampus. Sungguh menjadi dilema menyedihkan yang mana secara tidak lansung indepedensi mahasiswa sudah tercoreng. Dari kasus ini muncullah kebijakan dari pihak beberapa kampus yang ada di Indonesia untuk melarang masuknya organisasi Eksternal kedalam kampus. Keputusan yang bijak, namun sungguh di sayangkan ketika hari ini HMI ikut menjadi korban dari kebijakan tersebut. Padahal HMI sangat berperan mempengaruhi mahasiswa untuk mewujudkan peran mahasiswa yang sebenarnya dan diiringi penerapan Tri Dharma perguruan Tinggi.

 

Asal Muasal HMI

Lafran Panee merupakan mahasiswa tingkat 1 Sekolah Tinggi Islam (STI) saat ini disebut Universitas Islam Indonesia (UII) yang mana pada saat itu  di bulan November 1946 memprakasai gagasan untuk mendirikan HMI. Walaupun berbagai pertemuan sudah di adakan dan saling bertukar pikiran. Tetap saja masih banyak yang belum sependapat dan sama sekali belum memberi tanggapan yang positif. Bahkan ada beberapa pihak yang menentang lansung atas adanya gerakan ini.

Namun sosok Lafran Panee yang dikenal dengan sifat rendah hati-nya yang mana dari hari kehari pendukung Lafran Panee semakin terus bertambah. Pada Tahun 1947 lahirnya HMI semakin dekat terasa. Hingga pada suatu hari Lafran Panee bersama teman-teman lainnya menentukan sikap dan berkesimpulan bahwa organisasi ini harus berdiri: “Siapa yang mau menerima berdirinya organisasis ini, itu sajalah yang diajak, dan yang tidak setuju biarlah mereka terus menentang, toh tanpa mereka, organisasi ini akan bisa terus berjalan”.

Pada 14 Rabiul Awal 1366 H, bertepatan 5 Februari 1947, Setelah mengalami berbagai hambatan dan rintangan selama lebih kurang 3 bulan, mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) telah berketetapan hati mengambil keputusan untuk  menetapkan berdirinya  organisasi “Himpunan Mahasiswa Islam” disingkat HMI, dengan tujuan: Mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia dan Menegakkan serta mengembangkan agama Islam. Dilanjutkan dengan pengesahan Anggaran Dasar HMI. Adapun Anggaran Rumah Tangga akan dibuat kemudian. Serta membentuk pengurus. HMI dengan susunan Lafran Panee sebagai ketua dan Asmin Nasution sebagai wakil ketua.

Dari hal ini kita dapat menyimpulkan HMI lahir dari dalam kampus bukan dari luar kampus. Sehingga kesalahan luar biasa ketika banyak yang berpendapat HMI hanyalah organisasi Eksternal kampus biasa dan melarang HMI berada di dalam kampus.

Latar Belakang Berdirinya HMI

Menurut Drs. Agus Salim Sitompul, ada 3 faktor yang melatarbelakangi berdirinya HMI yaitu, Pertama, Situasi Negara Republik Indonesia, Kedua, Situasi Umat Islam Indonesia, Ketiga, Situasi Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan.

Pertama, Situasi Negara Republik Indonesia, 1945 saat Soekarno memproklamirkan kemerdekaan. Saat itu Republik Indonesia belum sepenuhnya lepas dari penjajahan. Kepergian penjajah jepang pada saat itu belum juga mengusir habis penjajah sebelumnya yaitu Belanda. Kepergian Jepang dari Indonesia membuat sisa – sisa kehidupan Belanda ingin kembali menguasai Indonesia. Oleh karna itu HMI hadir pada pada saat itu untuk ikut memperjuangkan kemerdekaan dan melawan penjajahan secara lansung terhadap Belanda.

Kedua, Situasi Umat Islam Indonesia. Kondisi umat Islam di era sebelum berdirinya HMI dapat kita golongkan kedalam 3 golongan : pertama, Islam pada saat itu masi di kenal sebagai kewajiban adat istiadat. Kedua, Golongan Alim Ulama dan pengikutnya yang mempraktikkan ajaran Islam seperti Rasulullah Saw. Ketiga, Alim ulama dan pengikutnya dengan sipritual yang tinggi yang menyebabkan mereka berfikir hidup ini untuk kepentingan akhirat saja. Keempat, golongan yang menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman, selaras dengan wujud dan hakekat agama islam.

Ketiga, Situasi Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan. Dua faktor yang berdominan warnai perguruan Tinggi sebelum HMI berdiri. Pertama ,Pendidikan yang diterapkan adalah sistem pendidikan barat yang mengarah pada sekularisme. Kedua, adanya PMY (Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta) dan SMI (Serikat Mahasiswa Indonesia) di Surakarta dimana kedua organisasi ini berada dibawah pengaruh komunis. Dua faham ini (sekuler dan Komunis) menyebabkan ketidakseimbangan  yang mana tidak adanya keselarasan antara akal dan kalbu serta pemenuhan kebutuhan dunia dan akhirat.

Dari tiga yang melatarbelakangi berdirinya HMI ini menjelaskan HMI hadir untuk menyelamatkan NKRI, Agama, dan Perguruan Tinggi bukan malah untuk merusak ketiganya.

Peran HMI Saat Ini

Dilema Perguruan Tinggi saat ini selain konflik berkepanjangan lintas Organisasi Eksternal adalah krisisnya Aktivis dan kurangnya minat Mahasiswa untuk berorganisasi. Bahkan jika kita selidiki lebih dalam beberapa pengampu mata kuliah sendiri (Dosen) melarang mahasiswanya untuk bergabung kedalam organisasi. Padahal proses pembelajaran dalam membentuk SDM berkualitas, organisasi menjadi kampus kedua bagi mahasiswa. Dalam ruang bangku kuliah mahasiswa hanya menerima teori – teori dan di sertai diskusi kecil, namun didalam organisasi mahasiswa akan menerima ilmu yang lebih banyak dan lebih luas seperti ilmu manajemen kepemimpinan dan ilmu sosial yang mana mahasiswa dituntut untuk berinteraksi lansung kepada masyarakat luas.

Berbicara organisasi mahasiswa, penulis menyimpulkan bahwa organisasi terbagi menjadi dua, yaitu Internal dan Eksternal. Dalam Organisasi Internal mahasiswa di tuntut agar dapat menjadi Eksekutor lansung terhadap kemajuan Kampus dan perkembangan Aktivitas Kemahasiswaan. Dalam organisasi Eksternal,  Mahasiswa di tuntut untuk menjadi Eksekutor dan berinteraksi lansung diantara masyarakat luas, sehingga ruang lingkupnya lebih luas dan ilmu yang di peroleh pun semakin besar. Hal inilah yang membuat tanpa pengalaman Organisasi Eksternal Kampus, para Eksekutor Organisasi Internal belum tentu mampu membawa perubahan yang lebih baik terhadap kampus.

HMI sendiri sebagai organisasi Eksternal ia tidak hanya berperan sebagai wadah untuk terjun kedalam masyarakat secara lansung. Tapi juga dapat menjadi organisasi yang memiliki pendidikan dan Pen-Trainingan yang sangat baik dalam mewujudkan SDM yang menonjol dan berkualitas.

Merujuk pada Tujuan HMI adalah “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI).

Dari tujuan tersebut dapat dirumuskan menjadi lima kualitas insan cita, yakni kualitas insan akademis, kualitas insan pencipta, kualitas insan pengabdi, kualitas insan bernafaskan Islam, dan kualitas insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Insan Akademis menuntut mahasiswa untuk menyeimbangkan antara pendidikan dan organisasi serta tidak menyarankan mahasiswa untuk berlama-lama menjadi mahasiswa strata I. Insan Pencipta menuntut mahasiswa untuk tidak hanya menerima dan mencari tapi juga sebagai pencipta yang memberi peluang besar dan pengaruh besar terhadap lingkungan sekitarnya. Insan pengabdi bergerak untuk kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat. Insan bernafaskan islam  berpedoman pada Qur’an dan Hadits menerapkan pada kehidupan untuk tidak terlepas dari ajaran-ajaran Islam. insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT  menuntut tanggung jawab terhadap apa yang di perbuat dengan sadar dan tanggung jawab sebagai umat islam di Indonesia untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Perlu diketahui yang membedakan HMI dengan beberapa organisasi lainnya adalah HMI murni datang dari kampus dan memegang teguh prinsip indepedensinya. HMI tidak berada di bawah naungan Partai atau Organisasi Kepemudaan lainnya. Murni perkaderan Mahasiswa bukan perkaderan Partai atau golongan lainnya (Luar Kampus).

Dari semua ini kita dapat simpulkan sungguh kerugian yang amat besar jika HMI hilang dari kehidupan Mahasiswa. Oleh karna itu harapan penulis sendiri mari kita membuka pikiran dan mata untuk mereka yang benar-benar ingin membawa perubahan yang baik terhadap kemajuan perguruan tinggi. Tak masalah siapapun, Organisasi Mahasiswa manapun asalkan setiap Visi dan Misi-nya ada untuk melahirkan mahasiswa yang cerdas dan berintelektual tinggi, bukan malah melahirkan sebuah idiologi suatu kaum (Partai/golongan selain mahasiswa) apalagi membawa mahasiswa keranah politik praktis. Karna sebagai mahasiswa sangat perlu kita menjaga prinsip Indepedensi Kemahasiswaan.

#YaKuSa – Yakin Usaha Sampai

Reffi Bahrizal, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Tarbiyah STAIN Malikussaleh 2015-Sekarang.

2 komentar

  1. Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi nasional tertua setelah organisasi negara Republik Indonesia ini ada. RI ada tahun 1945, HMI ada tahun 1947. yang alergi terhadap keberadaan HMI di kampus adalah person-person JAHIL peninggalan Jahiliyah yang berwawasan kerdil takut dikritisi, takut akan sesuatu yang ilmiah, person yang tidak mengerti akan pengertian kuliah. mereka berfikir kuliyah itu adalah hanya menyelesaikan SKS lalu wisuda, dan semoga slalu ikut dalam panitia, dah itu aja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *