Home / Artikel / Menulis : Mengabadikan Karya

Menulis : Mengabadikan Karya

Oleh: Muhammad Bin Husein

Secara umum, menulis adalah suatu aktivitas mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulisan. Menulis merupakan aktivitas mengasah otak dan mengembangkan imajinasi. Menulis juga merupakan wadah aktualisasi, kreativitas dan perwujudan karya yang dapat bersifat monumental. Banyak sekali tulisan dari penulis-penulis besar yang tetap hidup hingga sekarang, sekalipun si penulis sudah meninggal dunia berabad-abad tahun yang lalu.

Dengan menulis, seseorang akan mampu menyampaikan gagasan yang baik dan mencerahkan yang dapat bermanfaat bagi khalayak luas. Dengan menulis juga dapat menyalurkan aspirasi dan inspirasi yang dapat dijadikan sebagai motivasi, khususnya bagi diri penulisnya. Sebuah tulisan dapat mencerminkan karakter penulisnya. Kecerdasan penulis pun dapat diukur dari tulisannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Menulis itu menuangkan isi hati si penulis ke dalam bentuk tulisan, sehingga maksud hati penulis bisa diketahui banyak orang melalui tulisan yang dituliskan. Menurut Djuhaarie (2005: 120); Menulis merupakan suatu ketrampilan yang dapat dibina dan dilatih,. Sedangkan  Menurut Gebhardt dan Dawn Rodrigues (1989: 1) writing is one of the most important things you do in college. Menulis merupakan salah satu hal paling penting yang kamu lakukan di sekolah. Lain halnya Eric Gould, Robert DiYanni, dan William Smith (1989: 18) menyebutkan writing is a creative act, the act of writing is creative because its requires to interpret or make sense of something: a experience, a text, an event. Menulis adalah perilaku kreatif, perilaku menulis kreatif karena membutuhkan pemahaman atau merasakan sesuatu: sebuah pengalaman, tulisan, peristiwa. Juga Menurut M. Atar Semi (2007: 14) dalam bukunya mengungkapkan pengertian menulis adalah suatu proses kreatif memindahkan gagasan ke dalam lambang-lambang tulisan. Lebih lanjutk lagi Burhan Nurgiantoro (1988: 273) menyatakan bahwa menulis adalah aktivitas aktif produktif, yaitu aktivitas menghasilkan bahasa.

  • Proses Intelektual dan Kritis

Kemajuan teknologi, perkembangan ilmu pengetahuan dan invensi budaya asing telah menyusup dalam jiwa-jiwa mahasiswa yang melahirkan keapatisan terhadap peran dan tanggung jawabnya terhadap bangsa. Mahasiswa hari ini lebih banyak yang menulis status galau di media sosial, dari pada menyebarkan ilmu yang telah didapatnya selama masa perkuliahan. Lebih gemar chatting dan BBM-an dari pada diskusi mencetuskan ide cemerlang. Berlomba-lomba mengikuti gaya idola, mengadopsi budaya asing dan budaya sendiri lupa lalu ditinggalkan begitu saja. Dari sinilah virus apatis itu menyebar, lebih senang menghujat di media sosial tapi nihil tindakan. Hobi komentar tapi kosong pengetahuan.

Langkah awal pertama, untuk dapat membangun bangsa dan menggerakan partisipasi masyarakat adalah dengan membasmi virus apatis induknya skeptis, bagaimana bisa negeri ini akan maju, kalau generasi mudanya hanya duduk diam dan berpangku tangan atau parahnya tidak yakin bahwa bangsa ini akan menuju ke arah peradaban cemerlang. Mulailah dengan lingkungan sekitar, atau dari diri sendiri dengan menambah pengetahuan dan meningkatkan rasa kepedulian serta semangat berbagi kepada yang membutuhkan, misalnya mengajar anak-anak jalanan.

Selanjutnya antara mahasiswa harus bersinergi, seekor semut tidak akan mampu mampu mengangkat sepotong roti, tapi sekelompok semut bisa melakukannya. Basis intelektual yang dimiliki mahasiswa harus dioptimalkan untuk membantu masyarakat bangkit dalam kebodohan, mahasiswa yang juga mahasiswa harus memanfaatkan potensi dan keahliannya dibidang masing-masing dalam membantu masyarakat, bisa dimulai dengan kelompok peduli lingkungan, pendidikan, atau kesehatan. Dan sikap kritis mahasiswa, harus tetap dijaga ketajamanya, bukan hanya ikut-ikutan, tapi mulailah mengkritisnya dengan cara cerdas.

Cara yang penulis tawarkan adalah menggabungkan antara nilai intelektual dan jiwa kritis yang dituangkan dalam semangat menulis. Hari ini kemajuan teknologi semakin canggih, untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah yang pro rakyat, mahasiswa dapat menggerakan partisipasi masyarakat dengan cara menggiring opini publik. Rata-rata masyarakat Indonesia telah mengenal internet dan media sosial. Ini adalah wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan ide dan kritiknya terhadap pemerintah, jutaan masyarakat Indonesia akan membaca dan berpotensi ikut dalam ide yang tertuang dalam tulisan.

Tulisan yang dimuat secara online akan dibaca oleh banyak orang, bahkan masyarakat dunia. Tidak cukup dengan aksi demo, mahasiswa harus bersinergi dalam memanfaatkan potensi pengetahuan dan jiwa kritisnya untuk menulis, dengan begitu setiap kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat akan dapat dikritisi melalui tulisan. Secara tidak langsung telah menggiring opini masyarakat untuk masuk dalam satu ide dan gagasan, dan akan berhasil menggerakan partisipasi masyarakat dalam membangun bangsa. Era teknologi dan pengetahuan harus ditaklukkan, Pemuda kemarin berjuang dengan bambu runcing, dan hari ini Pemuda berjuang dengan pena, simbol untuk membangkitkan kembali peradaban bangsa, merangkul masyarakat dalam satu tujuan, mewujudkan Indonesia maju.

Rasanya tidak muluk, jika penulis berharap para mahasiswa hari ini harus menulis. Memiliki keberanian untuk menyampaikan ide serta menggandeng masyarakat untuk bangkit dari kebodohan dan pembodohan. Pantaslah Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa pemuda harus memiliki keberanian, untuk membedahkannya dengan makhluk lain. “Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”.

Semoga kita adalah mahasiswa yang melahirkan banyak karya, ide dan gagasan serta kritik dalam bentuk tulisan. Menulis akan menjadi cara mahasiswa berbicara, mengungkapkan kebenaran dan cara bersuara. Menulis juga cara mahasiswa memajukan bangsa lewat pengetahuan dengan mencegah pembodohan. Dan menulis adalah cara mahasiswa menggerakkan partisipasi masyarakat dan membangun bangsa menuju peradaban cemerlang. Mahasiswa hari ini harus bercermin kepada para pendahulu, Imam Syafi’i, Ibnu Sina. Ibnu Rusydi yang berhasil memajukan peradaban dizamannya dengan menulis.

  • Dikenang Sepanjang Abad

Imam  Al-Ghazali pernah mengatakan, “Kalau kamu bukan anak raja, dan kamu bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. Hampir senada dengan itu Sayyid Qutb, seorang ilmuwan yang juga sastrawan dan pemikir dari Mesir pernah mengungkapkan bahwa, “Peluru hanya bisa menembus satu kepala, tetapi tulisan bisa menembus jutaan kepala.” Sedang di dalam negeri sendiri, Pramoedya Ananta Toer juga pernah berucap, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Mari kita flashback tentang sejarah perjuangan para “founding father” negeri ini seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, atau yang lain dapat dijadikan pembelajaran bagaimana perjuangan di awal terbentuknya negeri ini, salah satunya dengan menulis.

Mereka dipenjarakan dan diasingkan jauh dari daerah tempat mereka tinggal, namun demikian tidak mematahkan semangat mereka dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dan salah satunya yaitu menghasilkan karya tulis.

Karya-karya meraka akan mejadi bukti untuk masa kini yang dituangkan dan abadikan dalam bentuk tulisan, buku, dan dokumentasi lainya dan akan menajadi warisan para pejuang Indonesia. Hal itu terjadi secara bersiklus yang terus bergulir, kita yang hidup masakini merupakan pemegang tongkat estafet yang nantinya pun akan kita mewariskan kepada generasi berikutnya. Salah satunya caranya yaitu melalui kata-kata dan naskah tulisan yang kita hasilkan pada saat ini. Semakin aktif dan banyak kita menghasilkan karya dalam bentuk tulisan maka semakin banyak yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya, begitu juga sebaliknya. Maka tidak salah kalau dikatakan dengan menulis kita bisa membangun sebuah peradaban dan akan dikenang sepanjang abad.Tulisan kita akan dibaca oleh banyak orang, kemdian diajarkan kepada orang sehingga nama kita terdengar keseluruh masyarakat Indonesia.

  • Transfer Knowledge

Penulis pemuda sering terhempas difikirannya “Apa yang harus ditulis dan darimana memulainya ?”.  Tulislah sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan juga kepada pembaca tulisan kita. Semakin banyak manfaat tulisan kita, mudah dicerna dan dipahami oleh para pembaca akan semakin banyak pula yang terinpirasi dengan tulisan tersebut. Maka dari itu kita harus teliti dan jeli dalam mengolah kata-kata atau bahasa yang kita gunakan agar pembaca tidak bosan.

Memang harus kita akui bahwa kebiasaan menulis belum menjadi suatu budaya bagi sebagian masyarakat kita. Apalagi dijenjang pendidikan baik sekolah atau pun perguruan tinggi belum terlalu mendorong siswa atau mahasiswanya untuk aktif dalam menulis. Bahkan dalam menyusun karya tulis atau pun skripsi masih banyak yang terkesan hanya sekedar “copy paste” dari yang sebelumnya. Selain itu masih adanya semacam “stereotip” di masyarakat bahwa menulis belum bisa memberikan jaminan keamanan secara finansial.

Namun satu hal yang harus kita yakini bahwa seiring kemajuan zaman dan perkembangan teknologi di berbagai sektor, kemampuan menulis pun nantinya juga akan semakin dibutuhkan.

Setelah adanya pengakuan bisa saja kita diundang untuk berbagi pengalaman atau sharing sesuai kompetensi serta keahlian yang kita miliki tersebut. Atau bisa juga menjadi semacam amal jariyah yang pahalanya akan tetap mengalir, kalau tulisan kita tersebut bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi orang banyak. Jadi apa pun kondisinya, ada atau tidaknya imbalan materi dan walau pun tidak adanya pengakuan dari orang lain, tetaplah menulis.

Maka tidak ada salahnya mulai dari sekarang kita membudayakan untuk membangun sebuah kebiasaan menulis. Karena dengan menulislah kita bisa menyambung rentetan sejarah panjang yang telah ada sebelumnya untuk kita teruskan sebagai warisan buat generasi selanjutnya. Sehingga suatu saat kelak orang-orang akan tetap mengingat bahwa ada seseorang yang pernah terlahir dan meninggalkan sebuah karya yang tetap hidup sepanjang zaman. Dan orang tersebut adalah Anda, yang tetap abadi dalam tulisan-tulisan yang Anda hasilkan. Selain itu kamu harus memperkaya bahasa dengan cara membaca tulisan orang lain dan berbagai macam model bacaan agar tulisan yang kamu sajikan labih menarik dan menginspirasikan kepada pembaca.

Penulis merupakan salah satu Mahasiswa Bahasa Inggris IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Kader Himpunan Mahasiswa Islam dan Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa Al-Kalam IAIN Malikussaleh Lhokseumawe. Email : Muhammadbinhusein@gmail.com WA : +62822 7641 9161

 

Satu Komen

  1. luar biasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *